Efek Buruk Dari HUSTLE CULTURE Pada Perempuan Pekerja

Di tengah dilema peran ganda seorang perempuan yaitu sebagai ibu rumah tangga dan pekerjaan kantoran, saat ini sudah mulai muncul istilah baru yaitu Hustle Culture. Untuk beberapa orang hustle culture merupakan keadaan yang biasa dalam rutinitas kehidupan. Dalam benak seorang perempuan sukses yang sebuah memiliki pola hustle culture, mereka harus bangun pagi setiap harinya sebelum matahari terbit. Lalu kemudian mereka bermeditasi sebelum mereka mulai bekerja. Lalu, mereka menjawab setiap email sebelum mulai berangkat bekerja.

Tak hanya itu, mereka juga mulai menyiapkan sarapan untuk keluarga mereka lebih awal sebelum mereka berangkat bekerja. Kegiatan bekerja yang dilakukan secara video call dan meeting dengan klien hingga mencapai 18 jam sehari.

Saat malam hari atau bahkan pada saat subuh mereka sudah merencanakan hal apa yang akan mereka lakukan keesokan pada harinya dengan menjadwalkan waktu mingguan tiga jam waktu untuk me time atau waktu untuk dia sendiri. Entah mengapa saat ini pikiran untuk ‘bekerja keras siang hingga malam’ ini sering disebut dengan hustle culture.

Alangkah sebaiknya bagi seorang perempuan dapat bekerja keras selama 18 jam atau nine to five seperti kebanyakan orang dan tetap bisa melakukan me time dirumah. Tapi sadarkah kalian bahwa kehidupan terkadang banyak sekali rintangan yang tidak kita duga membuat pola kerja yang kita lakukan tidak selalu seimbang. Mereka yang bisa menjalani hustle culture dengan baik sering dianggap sukses atau sibuk oleh teman-temannya. Namun, ternyata tanpa mereka sadari hustle culture memiliki dampak yang cukup buruk bagi Kesehatan mereka. Mari kita kenali hustle culture ini terlebih dahulu sebelum membahas lebih dalam.

Apa itu Hustle Culture?

Budaya Hustle Culture berarti bekerja secara terus-menerus. Itu berarti mengabdikan hari mereka sebanyak mungkin yang mereka bisa untuk bekerja atau terburu-buru. Tidak ada waktu untuk istirahat atau waktu untuk bekerja. Pekerjaan yang  sedang mereka dilakukan baik itu di kantor, di luar kantor, di rumah, di kedai kopi dan di mana saja. Dalam dunia yang selalu bergerak dan dilengkapi dengan  sebuah alat untuk mencapainya, bekerja terus-menerus saat bepergian sangatlah mungkin juga mereka lakukan dijtengah teknologi yang sudah sangat mendukung unyuk mereka bekerja sambal bepergian kemana-mana.

Dan itu adalah sebuah pola pikir, filosofi, dan kehidupan yang dianut oleh banyak orang dikota-kota besar saat ini, baik oleh individu ataupun perusahaan. Ketika kalian berbicara tentang budaya hustle culture ini, maka semakin kalian bekerja, semakin pula kalian merasa sukses. Namun, ada yang kalian lewatkan yaitu waktu makan, tidur, dan acara penting lainnya. Dalam sebuah budaya hiruk pikuk, istirahat hanya untuk orang yang lemah dan malas bekerja. Otak kalian akan berusaha dilatih untuk selalu aktif dan selalu menghasilkan ide demi ide.

Budaya hiruk pikuk tersebar sangat luas di berbagai kota, dan saat ini semakin populer serta dijadikan sebuah tolok ukur praktik terbaik di banyak tempat kerja. Tapi tentu saja itu tidak akan sebagus denga apa yang mereka dibayangkan.

Dampak Buruk Hustle Culture

  • Stress dan Overthinking

Budaya hustle culture hanya akan membuat orang membanding-bandingkan seberapa tinggi pencapaian nya dengan orang lain. Sebagai seorang perempuan yang menggunakan perasaan lebih dominan daripada logikanya sendiri, kita sering terjebak dalam sebuah permainan ini. Dengan adanya sebuah budaya hustle kita akan melihat seberapa tinggi pencapaian orang lain dan membandingkannya dengan pencapaian yang kita capai sekarang. Lalu kita akan mudah kecewa dengan berbagai keadaan atau perilaku atasan di dalam pekerjaan jika semuanya tidak sesuai ekspektasi yang kita harapkan kita. Lalu  kita tidak pernah puas akan hasil kerja keras  yang sudah kita capai, kita akan merasa kelelahan dan cepat stres. Apalagi sebagian perempuan saat ini tidak diperlakukan adil oleh atasan mereka karena alasan gender, mereka akan sangat mudah terganggu Kesehatan dan juga mentalnya.

Kerja yang berlebihan akan menyebabkan kesehatan mental yang lebih buruk, perasaan cemas yang lebih besar, dan kecenderungan menjadi depresi yang lebih tinggi. Kerja berlebihan akan menyebabkan melimpahnya penyakit dan kondisi yang tidak membuatnya sepadan dengan hasil yang mereka dapat.

  • Rawan Penyakit dan Kematian

 

Jika kalian mencari orang yang giat dalam bekerja, Jepang adalah jawabannya. Meskipun perhatian mereka pada gaya kerja yang berorientasi pada detail bagus dan hasil yang maksimal dan banyak yang melangkah lebih jauh. Dan itu hanya akan merugikan kesehatan mereka, itu juga dapat dibilang mengorbankan nyawa mereka. The Guardian melaporkan bahwa seorang jurnalis berusia 31 tahun bernama Miwa Sado benar-benar melakukan pekerjaan yang terlalu keras sampai mati. Dia menderita gagal jantung setelah menghabiskan 159 jam kerja lembur di perusahaan tempat ia bekerja. Yang lain bahkan sampai bunuh diri karena stres akibat jam kerja yang sangat panjang.

  • Kehilangan Waktu Bersama Keluarga

Saat kalian bekerja dari pagi hingga malam hari dan di akhir pekan kalian merasakan kelelahan, kehilangan waktu dengan orang yang kalian sayang adalah risikonya dari pekerjaan yang terlalu sibuk. Untuk seorang ibu yang bekerja, menyertai anak dalam pertumbuhannya menjadi sangat penting untuk dilakukan. Namun jika kalian masih tinggal bersama dengan kedua orangtua kalian saat ini, penting untuk kalian berfikir menyisihkan waktu bersama keluarga kalian agar tetap menjaga keharmonisan dengan keluarga keluarga

  • Bekerja Tidak Maksimal dan Tidak Produktif

Ada sebuah fakta menarik, sebagian besar penganut culture hustle ini adalah pengusaha yang besar atau seorang pendiri sebuah start-up. Untuk seorang karyawan atau pekerja, hustle culture akan membuat mereka tidak focus dalam bekerja karena akan merasa kelelahan sehingga pekerjaan mereka dilakukan dengan tergesa-gesa atau diburu waktu sehingga tidak akan menghasilkan hasil yang baik dan tentu tidak akan maksimal. Bahkan jika mereka dibayar untuk lemburpun , hal itu tentu  tidak akan sepadan dengan stres dan kecemasan yang akan timbul karena terlalu banyak bekerja. lalu bagaimana mereka dapat menikmati hasil kerja mereka ketika tidak punya waktu untuk hal lain selain pekerjaan yang menjadi konsentrasi utama mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *